Selasa, 24 April 2012

makalah evaluasi pendidikan/ pedoman guru


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kompetensi mengajar adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua tenaga pengajar. Berbagai konsep dikemukakan untuk mengungkap apa dan bagaimana kemampuan yang harus dikuasai oleh tenaga pengajar di berbagai tingkatan sekolah. Misalnya, Gagne (dalam Poerwanti, 2008;1-1) mengemukakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat tiga kemampuan pokok yang dituntut dari seorang guru yakni: kemampuan dalam merencanakan materi dan kegiatan belajar mengajar, kemampuan melaksanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar, serta menilai hasil belajar siswa.
Kemampuan merencanakan meliputi (1) mengidentifikasi materi pembelajaran, (2) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (3) menyiapkan instrumen penilaian, (4) menyiapkan media pembelajaran. Guru hendaknya merencanakan pembelajaran terlebih dahulu sehingga dalam pelaksanaannya dapat maksimal. Dalam kegiatan pelaksanaan guru harus bisa mengelola kegiatan belajar dengan baik, dari membuka pelajaran, kegiatan inti, sampai menutup pelajaran. Sedangkan pada tahapan yang ketiga yaitu dalam menilai hasil belajar siswa, guru melakukan evaluasi meliputi tiga ranah yaitu kognitif (pengetahuan siswa), afektif (sikap siswa dalam pembelajaran), dan psikomotor (keterampilan siswa).
Evaluasi mengenai ketiga ranah tersebut sangat penting dilakukan karena dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Bloom (dalam Nurkancana, 1990;27) mengelompokkan indikator masing-masing ranah tersebut. Kognitif terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif terdiri dari menerima, merespon, menghargai, pembentukan konsep, dan karakterisasi. Sedangkan untuk ranah psikomotor terdiri dari peniruan, pemanfaatan, kecermatan, penyangkutpautan, dan naturalisasi. Ketiga ranah tersebut menjadi hal mutlak dalam menilai suatu pembelajaran.
Akan tetapi pada umumnya guru melakukan evaluasi hanya pada aspek kognitif. Evaluasi apektif dan psikomotor bertujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa, minat siswa untuk belajar, dan motivasi siswa. Ketiga aspek tersebut memiliki peran yang penting dalam menentukan hasil belajar. Apabila keaktifan, minat dan motivasi rendah maka hasil belajar cenderung rendah. Untuk itu melakukan evaluasi mengenai apektif dan psikomotor siswa sangat penting dilakukan, agar dapat dijadikan acuan dalam mengoptimalkan proses pembelajaran.
Karena pentingnya evaluasi dalam proses pembelajaran, berikut ini akan dibahas mengenai evaluasi pembelajaran yang meliputi tiga ranah, kognitif, afektif dan psikomotor.

1.2.Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas yaitu:
1.2.1.      Apakah penilaian kognitif, afektif dan psikomotor?
1.2.2.      Bagaimanakah tehnik penilaian kognitif, apektif dan psikomotor?

1.3.Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, yang mejadi tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1.      Untuk mengetahui apakah penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor.
1.3.2.      Untuk mengetahui bagaimanakah tehnik penilaian kognitif, afektif dan psikomotor.

1.4.Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah sebagai acuan dalam melakukan suatu penilaian dalam proses pembelajaran.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat berupa proses/kemampuan minimal yang dipersyaratkan, atau batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan rata-rata unjuk kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. Kriteria yang berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak disebut dengan Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acua Kriteria (PAP/PAK). Dalam melaksanakan evaluasi terdapat tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.
A.    Penilaian Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom (dalam Nurkancana, 1990), segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
1.      Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah.


2.      Pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.  Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
3.      Penerapan (application) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.
4.      Analisis (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.
5.      Sintesis (syntesis) adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis.
6.      Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.

B.     Penilaian Afektif
Ranah afektif adalah suatu yang menyangkut reaksi-reaksi psikologik yang berkaitan dengan kemauan dan perasaan. Daerah afektif ini terdiri atas lima jenjang yaitu:
1.      Menerima (receiving) yaitu kesediaan untuk menerima hal-hal yang disampaikan oleh orang lain (misalnya oleh guru).
2.      Merespon (responding) yaitu adanya kesediaan untuk memberikan respon terhadap hal-hal yang disampaikan oleh orang lain.
3.      Menghargai (valuing) yaitu kesediaan untuk menghargai suatu nilai, gejala, atau kegiatan tertentu.
4.      Pembentukan konsep (conceptualization) yaitu penyusupan suatu konsep tentang nilai tertentu.
5.      Karakterisasi (characterization) yaitu menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai karakternya.

C.    Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Ada lima jenjang katerampilan yaitu:
1.      Peniruan (imitation) yaitu kemampuan untuk menirukan suatu keterampilan tertentu.
2.      Pemanfaatn (utilization) yaitu kemampuan untuk menggunakan keterampilan-keterampilan yang telah berhasil ditirukan dalam situasi yang tepat.
3.      Kecermatan (accurary)  yaitu kemampuan untuk menggunakan keterampilan tersebut secara cermat.
4.      Penyangkutpautan (connection) yaitu kemampuan untuk menghubungkan antara keterampilan yang satu dengan yang lain sehingga merupakan satu kegiatan.
5.      Naturalisasi (naturalization) yaitu kematangan dari keterampilan tersebut sehingga menjadi otomatis dan natural.

2.2. Metode Evaluasi
A.    Metode Tes
Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tes merupakan alat ukur yang sering digunakan dalam asesmen pembelajaran disamping alat ukur yang lain. Secara umum metode tes terdiri dari beberapa bagian yaitu:
1.      Tes Obyektif
Tes obyektif adalah tes yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau simbol.
Contoh:
1)      Contoh burung yang mempunyai bentuk kaki kuat dengan kuku yang tajam, yang digunakan untuk mencengkram mangsa adalah.....
a.       Burung pelikan.           c.   Burung elang.        e.  Burung Pelatuk
b.      Burung kolibri.            d.   Burung pipit.
Dari tes di atas dapat dipilih salah satu jawaban yang tepat. Pemberian skor untuk soal tes tersebut pada umumnya adalah masing-masing item jia benar skor 1. Jadi apabila jumalah soal 10 buah tes obyektif maka nilai siswa didapatkan dari:

NA = SHT  x 100
         SMI
                              
                       dimodifikasi, Nurhasan (dalam Artini, 2011:34)
Keterangan :
NA               = Nilai Akhir
SHT  = Skor Hasil Tes
SMI  = Skor Maksimal Ideal

2.      Tes Essay
Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk –bentuk pertanyaan yang umum adalah meminta kepada murid-murid untuk mejelaskan, membandingkan, menginterprestasi dan mencari perbedaan. Semua bentuk pertanyaan atau suruhan tersebut mengharapkan agar murid-murid menunjukkan pengertian maeraka terhadap materi yang dipelajari.
Contoh tes essay
1)      Sebutkanlah tujuan hewan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya!
2)      Sebutkan ciri-ciri paruh burung sesuai dengan jenis makanannya!
3)      Apakah yang menyebabkan cicak memutuskan ekornya, dan bunglon merubah warna kulitnya?
4)      Bagimanakah teratai, dan eceng gondok mampu bertahan hidup diair?
5)      Bagaimanakah bentuk perlindungan bunga mawar, kamboja, teratai dan buah nangka?
Pemberian skor untuk soal tes tersebut pada umumnya adalah masing-masing item jika benar skor 2. Jadi nilai siswa didapatkan dari:
                              
                       dimodifikasi, Nurhasan (dalam Artini, 2011:34)
Keterangan :
NA               = Nilai Akhir
SHT  = Skor Hasil Tes
SMI  = Skor Maksimal Ideal






2)      Metode Non-tes
a.      Pengamatan atau Observasi
Ciri-ciri:
(1)   Dilakukan untuk mengkaji perilaku kelas, interaksi antara siswa dan guru, dan faktor-faktor yang dapat diamati (observable) lainnya, terutama keterampilan/kecakapan sosial (social skills).
(2)   Hasilnya biasanya berupa jumlah dan sifat dari masalah perilaku di kelas, yang sering disajikan dalam bentuk grafik.
Yang termasuk di dalam kegiatan mempersiapkan observasi adalah:
a)      menentukan kegiatan atau tindakan (actions) apa yang akan diobservasi.
b)      menentukan siapa yang akan mengobservasi.
c)      menentukan rencana sampling.
d)     menyusun lembar observasi.
e)      melatih pihak-pihak yang akan melakukan observasi atau observer dalam menggunakan lembar observasi.
Contoh tes observasi:
-          Lembar Pengamatan
 No
Nama Siswa
Aspek
Total skor
1
2
3
4




































Keterangan:
1.      Kerjasama dalam kelompok (0-5)
2.      Partisipasi dalam pembelajaran (0-5)
3.      Kemampuan mengajukan pertanyaan (0-5)
4.      Kemampuan menjawab pertanyaan (0-5)
 






b.      Angket (kuesioner)         
Ciri-ciri:
(1)   Dipergunakan untuk mengumpulkan informasi yang tidak mudah diakses dengan cara lain.
(2)   Hasilnya berupa data deskriptif.
(3)   Biasanya berupa angket sikap (Attitude Questionnaires).
Contoh tes angket menggunakan skla Likert:
No
Pernyataan
SS
S
TS
STS
Skor
1
Saya merasa senang belajar Matematika





2
Saya tidak takut lagi belajar Matematika





3
Saya merasa bosan belajar Matematika





4
Keinginan saya untuk belajar Matematika menurun





5
Saya tidak bosan belajar Matematika





6
Saya merasa senang memecahkan soal Matematika





7
Keinginan saya belajar Matematika meningkat





8
Saya jadi lebih paham tentang materi yang diajarkan





9
Saya semakin takut belajar Matematika





10
Saya jadi kurang senang belajar Matematika





Jumlah skor

Keterangan
            SS        : Sangat Setuju, skor 4
            S          : Setuju, skor 3
            TS        : Tidak Setuju, skor 2
            STS     : Sangat Tidak Setuju, skor 1




c.       Portofolio
Ciri-ciri:
(1)   Siswa menjabarkan tugas atau karyanya.
(2)   Memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari dan dicapai siswa
Siswa akan merasakan bahwa dirinya benar-benar memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman jika mereka dapat menjabarkan tugas atau karya mereka ke dalam sebuah portofolio yang merepresentasikan kualitas belajar mereka. Melalui portofolio para siswa dapat menunjukkan gambaran yang komprehensif mengenai prestasi, perkembangan atau kemajuan yang telah diraih, karena dari portofolio akan tampak “pekerjaan terbaik” siswa atau “proses” yang diterapkan di dalam belajar.



















BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Evaluasi dalam pembelajaran menyangkut tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Metode evaluasi terdiri dari dua yaitu metode tes dan metode non tes.
3.2. Saran
Hendaknya dalam melakukan suatu evaluasi dalam pembelajaran tidak hanya pada aspek kognitif saja melainkan pada aspek afektif dan psikomotor juga penting dilakukan untuk menunjang pencapaian kualitas pembelajaran yang maksimal.

DAFTAR RUJUKAN

Anonym. 2011. “Penilaian Kognitif, Afektif, dan Psikomotor”. Tersedia pada http://dc314.4shared.com/doc/GvK3Qy4c/preview.html(diakses tanggal 18 April 2012).
Nurkancana, Wayan.,dkk. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Poerwati, Endang. 2008. Asassment Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjendikti Depdinas.